DORIANA GREY
| Year: 1976 Director: Jess Franco Countries: Switzerland Genres: Erotica, XXX Cast:Lina Romay, Monica Swinn Review Link: |
Rp 40.000,- | |
LES PETITES ECOLIERES
![]() |
Year: 1977 Director: Claude Mulot (as Frédéric Lansac) Countries: France Genres: Erotica, XXX Cast: Brigitte Lahaie, Cathy Stewart, Céline Gallone, Elodie Delage, Jane Baker, Karine Gambier, Marilyn Jess |
Rp. 30.000,- |
FIEVRES NOCTURNES
![]() |
Year: 1977 Director: Claude Bernard-Aubert (as Burd Tranbaree) Countries: France Genres: Erotica, XXX Cast: Brigitte Lahaie |
Rp. 30.000,- |
LA MAISON DES PHANTASMES/COUPLE CHERCHE ESCLAVE SEXUEL
![]() |
Year: 1979 Director: Claude Bernard-Aubert, Jean-Claude Roy Countries: France Genres: Erotica, XXX Cast: Brigitte Lahaie, Richard Lemieuvre, Christel Loris, Nicole Velna and Alban Ceray |
Rp. 40.000,- |
Thriller – A Cruel Picture a.k.a. They Call Her One Eye (1974)
(Thriller – En grym film)
Frigga (Christina Lindberg) adalah seorang wanita yang tidak bisa bicara karena trauma akibat pelecehan seksual di masa kecil. Ia menghabiskan waktu bekerja di peternakan orang tuanya. Suatu hari, karena ketinggalan bus ke kota, ia menerima ajakan seorang pria bernama Tony untuk diantarkan dengan mobil mewah.
Sesampainya di kota, Frigga dibawa ke apartemen milik Tony. Lalu diajak minum angur yang ternyata berisi obat bius. Frigga pun tertidur selama beberapa hari. Saat terbangun, Frigga mendapati bahwa ternyata Tony adalah seorang germo dan ia telah dijadikan salah satu pelacurnya. Bahkan selama tertidur, ia telah disuntikkan heroin sehingga kecanduan dan tidak bisa melarikan diri.
Frigga dipaksa untuk melayani orang-orang mesum. Di hari pertamanya, Frigga mencakar wajah seorang pelanggan. Akibatnya Tony memberinya pelajaran, yaitu dengan kejam mencungkil mata kiri Friga (mayat asli dipakai buat adegan ini). Akhirnya Frigga dengan satu matanya terpaksa melayani setiap tamu dengan baik.
Tidak cukup menderita dijadikan pelacur dan kehilangan satu matanya, Frigga bak tersambar petir ketika menerima kabar bahwa kedua orangtuanya meninggal akibat bunuh diri karena putus asa mencari putrinya yang hilang itu.
Frigga menyimpan dendam kesumat terhadap Tony. Tanpa sepengetahuan germonya itu, Frigga merencanakan balas dendam. Tamu-tamu yang dilayaninya memberinya tips yang tidak sedikit. Di setiap hari liburnya, Frigga menyewa orang-orang untuk secara rutin mengajarinya beladiri, menembak dan mengemudikan mobil.
Setelah akhirnya menguasai setiap ilmu yang diajarkan, barulah Frigga melancarkan aksi balas dendamnya dengan sadis. Frigga kembali dengan membawa shotgun dan membunuh semua pelanggannya dan menyiapkan rencana khusus untuk membunuh sang germo yang sudah menghancurkan hidupnya.
Cukup surprise, karena film asal Swedia ini tidak tampil seperti sebuah film exploitation yang digarap dengan seadanya. Bahkan penyutradaraan Bo Arne Vibenius terkesan puitis. Setiap adegan pembunuhan yang dilakukan Frigga dilakukan dengan extreme slow motion. Seakan-akan menggambarkan bahwa aksi balas dendam yang dilakukan Frigga adalah sesuatu yang sangat agung dan begitu dinikmati oleh Frigga. Saya sendiri tidak mengerti mengapa adegan super slo-mo ini banyak dikeluhkan oleh penggemar exploitation. Saya sangat menikmati setiap darah yang bercucuran dengan begitu pelannya. Jika film ini tidak dibuat tahun 1974, Bo Arne mungkin akan membuat film seperti 300.
Angle-angle kamera yang ditampilkan juga sangat menarik dan tidak biasa. Mirip seperti apa yang ada di film-film Aki Kaurismaki. Kestatisannya sangat menyatu dengan apa yang kira-kira dirasakan Frigga. Menimbulkan kesan pasif nan misterius.
Kelemahan yang cukup menggangu mungkin beberapa insert hardcore pornography. Hanya berupa shot yang menyorot alat kelamin sedang berpenetrasi (whew, susah mencari kata yang halus). Footage-footage ini seperti diselipkan secara paksa di setiap adegan seks, dan tampak tidak menyatu dengan baik, sehingga terkesan konyol. Kabarnya hal ini sengaja dilakukan untuk mendistribusikan film ini di bioskop porno U.S.
Quentin Tarantino memasukkan film ini ke dalam lima besar film exploitation favoritnya. “Film balas dendam terkeras yang pernah dibuat.” Jangan lupa, bahwa Frigga menginspirasi Tarantino untuk membuat karakter Elle Driver di Kill Bill.
Saya sendiri tidak menyangka akan menikmati film exploitation ini seperti menikmati sebuah film arthouse. Besides, Christina Lindberg is so georgeous.

DVD:
Synapse Films melakukan yang terbaik untuk merilis film ini dalam bentuk DVD. Versi Limited Editionnya menampilkan versi terpanjang dari film ini. Noise di sepanjang film dan beberapa adegannya yang tidak tajam mungkin lebih karena buruknya source material yang ada. Audio tersedia dalam dua bahasa, Inggris dan Swedia, keduanya mono. Dilengkapi dengan subtitle Inggris untuk percakapan dalam bahasa Swedia.
Extra yang ada antara lain 4 buah trailer dari film ini yang didistribusikan dengan judul berbeda, outtake yang tidak terlalu penting, alternate harbor sequence, dan yang paling menarik adalah foto-foto outtakes, dan production still yang banyak menampilkan tubuh polos Christina Lindberg.
Alternate Title: They Call Her One Eye/Hooker’s Revenge
Pemain: Christina Lindberg
Sutradara: Bo Arne Vibenius


